Terbit di Harian Singgalang (10-11-2025) https://www.hariansinggalang.co.id/opini/2397/pahlawan-yang-sesungguhnya Oleh Dr. Supriadi, S.Ag., M.Pd (Wakil Dekan 3 FTIK UIN SMDD Bukittinggi) Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia rutin menundukkan kepala berkhitmat dalam keheningan cipta, menyalakan obor penghormatan, dan meneriakkan jargon “Selamat Hari Pahlawan!” di berbagai podium upacara. Namun, di tengah riuhnya peringatan itu, kita patut bertanya: masih adakah pahlawan sejati di negeri ini, ataukah kata pahlawan kini hanya tinggal kenangan yang dipajang di ruang kelas, museum dan buku sejarah? Dalam dunia yang makin absurd ini, definisi kepahlawanan tampaknya sedang diguncang oleh kenyataan sosial yang sulit dicerna oleh akal sehat. Negeri yang dulu berjuang melawan penjajah, kini seolah dijajah ulang namun bukan oleh bangsa asing, melainkan oleh keserakahan, kemunafikan, dan absurditas moral dari anak-anak negeri ini sendiri. Ada banyak contoh fenomena yang terjadi di negeri ini yang memperlihatkan betapa nilai-nilai kepahlawanan itu telah sirna, diantaranya adalah; Pertama, mari menatap tajam pada fenomena oknum pejabat yang bejat, banyak diantara mereka yang semestinya menjadi pelayan rakyat justru sibuk melayani nafsu pribadi. Setiap saat, berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) koruptor seperti sinetron telenovela yang terus bersambung, selalu saja ada episode baru dengan pemeran yang berbeda namun dengan alur cerita yang sama yaitu suap, proyek fiktif, gratifikasi, dan rekening gendut. Ironisnya, angka korupsi di republik ini kian fantastis, seperti skor games yang terus naik tanpa pernah game over, sementara rakyat menjerit karena harga bahan pokok semakin melambung. Para pejabat sibuk memamerkan jam tangan ratusan juta, fashion yang limited edition, atau pesta ulang tahun anaknya di luar negeri dengan tema mewah yang viral di media sosial. Tidak cukup sampai di situ, sebagian oknum anggota dewan malah minta kenaikan gaji di tengah kondisi ekonomi rakyat yang belum pulih, seolah lupa siapa sebenarnya yang mereka wakili. Lebih parah lagi, gedung parlemen yang seharusnya menjadi rumah bagi gagasan dan solusi bangsa, kini lebih sering viral bukan karena keputusan penting dan spektakuler, tetapi karena kelakuan absurd penghuninya. Ada yang suka joget-joget saat rapat resmi, ada yang ketahuan scrolling media sosial, nonton video porno, bahkan tak sedikit yang ketiduran di tengah sidang yang sedang membahas undang-undang. Mereka mungkin menganggap semua itu hal sepele, tapi di mata rakyat, itu adalah bentuk pengkhianatan moral terhadap nilai-nilai kepahlawanan. Jika para pejuang dulu berkorban nyawa demi kemerdekaan, maka pejabat masa kini tampaknya rela “membunuh” kepercayaan publik demi kenyamanan pribadi. Fenomena kedua pada dunia pendidikan yang semestinya menjadi benteng moral dan intelektual bangsa, juga sedang mengalami degradasi yang bikin hati miris. Kita menyaksikan kepala sekolah atau guru yang disanksi bukan karena korupsi dana BOS atau penyalahgunaan jabatan, melainkan karena mereka tegas menegakkan disiplin. Seorang kepala sekolah dinonaktifkan hanya karena menampar siswa yang merokok di area sekolah, guru diancam keselamatannya oleh orang tua hanya gara-gara menyita HP siswa saat belajar. Di tempat lain, seorang kepala sekolah dimutasi gara-gara tegas menegur siswa yang membawa mobil ke sekolah. Fenomena ini menunjukkan bahwa makna pendidikan kini sedang dibalik yang bersalah bisa berlindung di balik kata “hak anak” atau kekuasaan dan status sosial orang tua siswa, sementara yang tegas dituduh otoriter dan melanggar hukum. Padahal, pendidikan sejati bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan karakter, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab pada anak sejak dini. Sayangnya, ketika ketegasan guru dikriminalisasi, maka sesungguhnya kita sedang melahirkan generasi yang rapuh, generasi yang mudah tersinggung dan sulit diatur, pintar berkilah walaupun salah dan pintar berdebat tapi malas berjuang. Lembaga pendidikan yang seharusnya mencetak pahlawan masa depan, kini justru menghasilkan “penonton kehidupan” yaitu anak-anak yang sibuk membuat konten trending, tapi gagap dan canggung dalam menghadapi realita sosial. Fenomena ketiga, dekadensi moral di masyarakat telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Kita hidup di era di mana kejahatan terasa seperti daily routine. Setiap hari berita televisi dan media sosial disesaki kasus pembunuhan, begal, perampokan, pemerkosaan, dan peredaran narkoba. Begitu juga praktek judi online yang tumbuh subur bak jamur di musim hujan, menjebak generasi muda dalam candu digital yang menguras moral dan uang mereka, bahkan bila sudah tidak punya uang, mereka mulai berfikir cara pintas untuk mendapatkannya dengan cara apapun. Di jalanan, rasa aman sudah menjadi barang langka, dan di rumah sendiri pun manusia tak lagi merasa tenang. Semua ini adalah potret bangsa yang kehilangan pegangan spiritual dan etika sosial. Namun di tengah hiruk pikuk kehancuran moral dan rusaknya tatanan publik itu, kita masih bisa menemukan contoh dari sosok-sosok kecil yang berjuang tanpa pamrih. Mereka inilah pahlawan yang sesungguhnya, bukan mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan atau berpose di depan kamera dengan selempang penghargaan. Mereka adalah guru yang tetap mengajar dengan gaji pas-pasan dan berjalan berkilo-kilo meter untuk sampai ke sekolah, tapi dengan hati lapang, begitu pula dengan petugas kebersihan yang bangun sebelum fajar demi menjaga kota tetap bersih atau sopir angkot yang jujur mengantar penumpang tanpa menaikkan tarif, atau bisa juga relawan yang turun ke lokasi bencana tanpa menunggu sorotan kamera. Mereka tidak punya lencana, tidak dikenal, tapi justru merekalah bagian yang menopang peradaban agar tetap berdiri. Pahlawan sejati hari ini bukan mereka yang viral karena prestasi instan, melainkan mereka yang berani melawan arus kebobrokan dengan cara sederhana namun konsisten. Pahlawan masa kini bukan lagi sekadar mereka yang memanggul senjata, tapi yang tetap jujur di tengah budaya manipulasi, yang tetap sederhana di tengah glamoritas semu, dan yang tetap peduli ketika empati mulai punah. Mereka hadir tanpa seremoni, tanpa sambutan karpet merah, tapi dengan kerja nyata dan hati yang tulus ikhlas. Sayangnya, di era serba digital ini, kepahlawanan sering terjebak dalam logika engagement dan followers. Banyak orang ingin disebut pahlawan hanya karena berbagi video sedekah di media sosial, padahal niatnya lebih ke arah mencari like daripada keberkahan. Inilah paradoks zaman sekarang yang tulus tak dikenal, yang pura-pura justru dielu-elukan. Maka, tantangan terbesar kita hari ini bukan lagi melawan penjajah bersenjata, melainkan melawan ego, kemunafikan, dan haus pengakuan yang menjajah hati manusia. Barangkali sudah saatnya kita mendefinisikan ulang makna “pahlawan”. Ia bukan tentang siapa yang disanjung, tetapi siapa yang bertahan. Bukan tentang siapa yang berkuasa, tetapi siapa yang berintegritas. Bukan tentang siapa yang hebat di panggung, tetapi siapa yang konsisten di balik layar. Dalam dunia yang penuh kepalsuan ini, menjadi orang baik saja sudah merupakan tindakan heroik. Pahlawan yang sesungguhnya adalah mereka yang terus bekerja meski tak dihargai, yang tetap jujur meski dikelilingi kebohongan, yang memilih melayani meski disalahpahami. Mereka adalah denyut nadi bangsa yang sesungguhnya. Jika negeri ini masih berdiri, itu bukan karena kekuasaan atau kebijakan, tapi karena masih ada orang-orang kecil yang memikul beban besar dengan keikhlasan tanpa pamrih. Maka, ketika kita memperingati Hari Pahlawan, berhentilah sejenak dari seremonial dan retorika kosong. Tengoklah ke sekitar mungkin pahlawan itu bukan yang berjasa di medan perang, tapi yang setiap hari berjuang di medan kehidupan. Sebab pahlawan yang sesungguhnya tidak butuh medali, cukup nurani yang bersih dan langkah yang konsisten. Di tengah bangsa yang makin kehilangan arah, merekalah satu-satunya alasan kenapa Indonesia masih punya harapan. Merdeka! Post navigation Pahlawan Zaman Now: Dari Medan Perang Ke Medan Digital Pesantren Ramah Anak: Lentera Baru Di Hari Santri