ANDRAGOGI.COM
Website Pendidik & Pelatih
Bila kita menyaksikan kenyataan yang terjadi sehari-hari dalam setiap level pendidikan yang ada di sekitar kita sejak dari tingkat Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi, maka kita akan menemukan setidak-tidaknya 3 jenis dari tenaga pengajar (guru). Di antara guru itu ada yang telah mempersiapkan seluruh kegiatan pengajarannya secara khusus jauh sebelum memulainya, ada pula di antara mereka yang membuat persiapan untuk setiap kali pertemuan. Pada sisi lain ada kelompok pengajar yang tidak perlu membuat persiapan apapun sebelum mengajar. Kelompok yang ketiga ini langsung mengajar karena merasa telah biasa mengajar dengan baik apabila mengetahui topic yang akan diajarkan untuk setiap kali pertemuan. Setiap pengajar, baik yang membuat persiapan maupun tidak, selalu mencari cara untuk melaksanakan kegiatan instruksionalnya dengan sebaik-baiknya.
Pengembangan instruksional adalah terminology yang berkembang sejak kurang lebih 20 tahun yang lalu. Penerapannya di Indonesia mulai popular seiring dengan penggunaan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) pada permulaan 1970, khususnya dalam mengiringi munculnya Kurikulum 1975 yang berlaku untuk tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah. Sejak saat itu pengembangan instruksional menjadi kegiatan yang lebih menonjol, tidak saja di tingkat Sekolah Dasar dan Menengah tetapi juga di perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dan pelatihan (Diklat)
Lalu apakah yang dimaksud dengan pengembangan instruksional itu sebenarnya ? berbagai ahli di bawah ini mengemukakan berbagai definisi pengembangan instruksional.
Clarence Schauer (1971) menyebutkan sebagai perencanaan secara akal sehat untuk mengidentifikasikan masalah belajar dan mengusahakan pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan suatu rencana terhadap pelaksanaan, evaluasi, uji coba, umpan balik dan hasilnya. Hamreus (1971) menyebutkan secara singkat sebagai proses yang sistematis untuk meningkatkan kualitas kegiatan instruksional, dan Buhl (1975) menyebutnya sebagai suatu set kegiatan yang bertujuan meningkatkan kondisi belajar bagi siswa.
Kecuali Schauer, tidak seorangpun dari ahli di atas yang menunjukkan secara jelas bagaimana proses pengembangan instruksional itu berlangsung. Mereka lebih menitikberatkan pengertian pengembangan instruksional pada tujuan atau maksudnya, yaitu memecahkan masalah belajar, meningkatkan kualitas kegiatan instruksional atau meningkatkan kondisi-kondisi belajar.
Bila mempelajari pengertian pengembangan instruksional yang dikemukakan tiga pihak lain di bawah ini, kita akan melihat lebih jelas bagaimana proses tersebut berlangsung. Twelker, Urbach dan Buck (1972) mendefinisikannya sebagai suatu cara yang sistematis untuk mengidentifikasi, mengembangkan dan mengevaluasi satu set bahan dan strategi belajar dengan maksud mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Reigeluth (1978) mengartikannya sebagai tiga tahap kegiatan sebagai berikut :
Menurut Atwi Suparman (2001) bahwa yang dimaksud dengan pengembangan instruksional adalah suatu proses yang sistematis dalam mengidentifikasi masalah, mengembangkan bahan dan strategi instruksional, serta mengevaluasi efektifitas dan efisiensinya dalam mencapai tujuan instruksional. Dalam susunan bahasa yang lain dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pengembangan instruksional adalah proses yang sistematis dalam mencapai tujuan instruksional secara efektif dan efisien melalui pengidentifikasian masalah, pengembangan strategi dan bahan instruksional, serta pengevaluasian terhadap strategi dan bahan instruksional tersebut untuk menentukan apanya yang harus direvisi.
Kedua pengertian di atas mengendung pengertian yang sama, yaitu
Dalam pemakaian sehari-hari ada dua istilah yang berkembang yaitu pengembangan instruksional dan desain instruksional. Kedua istilah ini sebenarnya sulit untuk dibedakan, disatu sisi secara konseptual proses desain dimulai dari identifikasi masalah atau identifikasi kebutuhan instruksional dan diakhiri dengan identifikasi bahan dan strategi instruksional, sedangkan proses pengembangan instruksional dimulai dengan memilih atau mengembangkan bahan instruksional dan menuangkannya ke dalam strategi instruksional yang telah didesain, kemudian diakhiri dengan mengevaluasi strategi berikut bahan instruksional tersebut untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensinya.
Tetapi, perbedaan secara konseptual itu sulit sipraktikkan, karena pada kenyataannya proses pengembangan instruksional bila harus berdiri sendiri akan mulai dari titik awal yaitu identifikasi masalah sebagaimana halnya permulaan kegiatan desain instruksional. Sebaliknya proses desain instruksional bila harus berdiri sendiri tidak berhenti pada pengidentifikasian bahan dan strategi instruksional, karena desain seperti itu tidak mungkin dapat diketahui kualitasnya bila belum digunakan untuk mengembangkan bahan instruksional. Karena itu proses desain instruksional itu selalu diteruskan ke proses selanjutnya, yaitu produksi dan evaluasi sehingga menghasilkan system instruksional yang diinginkan. Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa dalam praktik proses desain dan pengembangan instruksional tersebut sama panjangnya.
Penggunaan pendekatan sistem dalam pengembangan instruksional telah menghasilkan berbagai model. Tidak semua model itu serupa. Sebagian sesuai digunakan untuk memecahkan masalah yang lebih luas, sebagian lagi sesuai untuk masalah yang lebih sempit. Dalam “Workshop Penguatan Kompetensi Guru” yang dilaksanakan oleh STAIN Bukittinggi sebagai bagian dari program “Pemberdayaan Madrasah” lebih memilih model yang dikembangkan oleh Atwi Suparman (2001), karena lebih mudah dimengerti, dengan tidak mengabaikan model lain yang dapat dilihat di lampiran tulisan ini. Model yang dikembangkan Atwi Suparman adalah sebagai berikut :
Bagian-bagian dari model ini akan menjadi pembahasan khusus dalam pelatihan ini.
Langkah ini adalah titik tolak dan sumber bagi langkah-langkah berikutnya, karena itu, kebingungan yang terjadi dalam langkah permulaan ini akan menyebabkan seluruh kegiatan pengambangan instruksional kehilangan arah.
Bila anda mengajar, pertanyaan yang pertama harus diajukan kepada diri anda sendiri adalah : apakah pemberian pelajaran itu memcahkan masalah ? secara rinci pertanyaan tersebut dapat dipecahkan menjadi beberapa pertanyaan berikut :
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat anda jawab dengan cermat bila anda tidak melakukan suatu langkah awal yang seharusnya dilakukan pengajar, pengelola program pendidikan atau pengembang instruksional, yaitu mengidentifikasi kebutuhan intsruksional dan menulis tujuan instruksional umum.
Topik ini akan dibahas tersendiri dalam bagian Taksonomi Tujuan Pembelajaran
Tidak sedikit dari pengembang instruksional termasuk pengajar melompat setelah merumuskan tujuan instruksional umum ke penulisan tujuan instruksional khusus, tes atau isi pelajaran, tanpa melalui analisis instruksional.
Analisis intsruksional memiliki pengertian sebagai suatu proses menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengidentifikasi perilaku-perilaku khusus yang dapat menggambarkan perilaku umum secara lebih terperinci.
Dengan melakukan analisis instruksional, akan tergambar susunan perilaku khusus dari yang paling awal sampai yang paling akhir, baik jumlah maupun susunan perilaku tersebut akan memberikan keyakinan kepada pengajar bahwa perilaku umum yang tercantum dalam tujuan umum dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dengan perkataan lain melalui tahap perilaku-perilaku khusus tertentu siswa dapat mencapai perilaku umum.
Berikut ini adalah langkah-langkah untuk digunakan dalam melakukan analisis instruksional :
Keterampilan siswa yang ada di dalam kelas acap kali sangat heterogen. Sebagian siswa sudah banyak tahu, sebagian lagi belum tahu sama sekali tentang tentang materi yang diajarkan di kelas. Bila pengajar mengikuti kelompok siswa yang pertama, kelompok yang kedua merasa ketinggalan dan tidak dapat menangkap pelajaran yang diberikan. Sebaliknya, bila pengajar mengikuti kelompok yang kedua, yaitu mulai dari bawah, kelompok pertama akan merasa tidak belajar apa-apa dan bosan.
Untuk mengatasi hal tersebut ada dua pendekatan yang dapat dipilih. Pertama, siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran dan kedua, sebaliknya, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa.
Pendekatan pertama, siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran, dapat dilakukan sebagai berikut :
Setelah melalui seleksi seperti dijelaskan dalam butir 1, masih ada kemungkinan pengajar menghadapi masalah heterogenitasnya siswa yang mengambil mata pelajaran tertentu. Karena itu, perlu dilakukan tes sebelum mengikuti pelajaran untuk mengelompokkan siswa yang boleh mengikuti mata pelajaran tersebut. Selanjutnya, atas dasar hasil tes setiap kelompok tersebut mengikuti tingkat pelajaran tertentu.
Alternatif lain untuk butir dua di atas adalah mengharuskan siswa lulus mata pelajaran yang mempunyai prasyarat.
Pendekatan kedua, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa. Pendekatan ini hamper tidak memerlukan seleksi penerimaan siswa. Pada dasarnya, siapa saja boleh masuk dan mengikuti pelajaran tersebut. Siswa yang masih belum tahu sama sekali dapat mempelajari materi pelajaran tersebut dari bawah karena materi pelajaran memang disediakan dari tingkat itu
Topik ini akan dibahas tersendiri dalam
Topik ini akan dibahas tersendiri dalam bentuk dua materi :
Topik ini akan dibahas tersendiri
Your email address will not be published. Required fields are marked *
Comment *
Name *
Email *
Website
Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.