Oleh Dr. Supriadi, S.Ag., M.Pd Dosen UIN Bukittinggi Terbit di Harian Singgalang Tanggal 11 Maret 2026 https://www.hariansinggalang.co.id/opini/2563/menekan-saklar-rahmat-ikhtiar-kecil-dalam-keajaiban-besar-bulan-ramadhan Ramadhan selalu ditunggu oleh kaum Muslimin. Ia datang seperti tamu agung yang mengetuk lembut pintu hati manusia. Ramadhan membawa nuansa yang berbeda, masjid lebih hidup, aktivitas di dalamnya menjadi panjang, Qiyamul lail hingga tahajujud lebih sering dilakukan, sedekah jauh lebih mudah dikeluarkan, Al-Qur’an lebih sering dibaca, doa lebih banyak dipanjatkan, Dhuha jarang ditinggal, dan manusia dengan berbagai profesinya seolah mendadak menjadi alim dan seperti tersadar mengenai tujuan hidupnya yang hakiki. Pernahkah terfikirkan di balik seluruh ritual itu, beberapa pertanyaan sering muncul di benak kita; mengapa Allah tidak langsung memberikan kemuliaan, ampunan, dan derajat ketakwaan kepada manusia tanpa harus melalui proses panjang dan berat bernama puasa? Kenapa Allah terlalu banyak memberi perintah yang bagi sebagian orang terkesan “bikin ribet”? Bukankah kita sama tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? Sementara Allah telah nyata menegaskan kekuasaan absolut itu dengan sangat jelas. “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu” (QS. Yasin: 82). Ayat ini menegaskan bahwa Allah jika sudah berkehendak, tidak perlu lagi proses, alat, atau perantara lain untuk menjadikan sesuatu. Sementara di sisi lain Allah adalah Zat Yang Maha Bijaksana (Al-Hakim), sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Baqarah: 129). Maknanya bahwa di balik setiap keputusan Allah selalu ada hikmah yang terkandung di dalam, meskipun manusia belum mampu memahaminya. Analisa kritis di atas menuntun kita menemukan satu rahasia besar kehidupan, dimana Allah yang Maha Kuasa sering kali memilih tidak langsung menggunakan kuasa-Nya secara instan, tetapi mengajarkan setiap manusia melalui sebuah hukum yang disebut sunnatullah, hukum sebab-akibat dalam kehidupan manusia. Allah sebenarnya mudah memberi tanpa usaha manusia, tetapi Dia tidak ingin memanjakan manusia seperti bayi yang selalu disuapi. Allah ingin manusia bergerak, ber-ikhtiar, dan menunjukkan kesungguhannya. Dalam bahasa sederhana, manusia diminta melakukan bagian kecilnya terlebih dahulu, sebelum mendapatkan bagian besar yang datang dari keperkasaan dan kebijaksanaan Allah. Pola kausalitas ini, jelas terekam dalam kisah-kisah para nabi dan orang shaleh yang diabadikan indah dalam Al-Qur’an. Sebagai contoh di antaranya adalah; Ketika Nabi Musa dan pengikutnya terjebak di tepi Laut Merah, keadaan mereka secara manusiawi tampak mustahil untuk selamat. Bagaimana tidak, di belakang mereka pasukan Fir’aun dengan kekuatan militer yang besar. Di depan mereka lautan luas yang tak mungkin diseberangi. Namun dalam situasi kritis itu, Allah tidak serta-merta membelah laut dengan kun-fayakun-Nya. Allah berfirman, “Maka Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukulkanlah tongkatmu ke laut itu. Maka terbelahlah laut itu…” (QS. Asy-Syu’ara: 63). Logika ilmu pengetahuan apapun pasti tidak akan menemukan, hubungan antara pukulan tongkat kayu dengan samudera yang terbelah. Tetapi kala itu Allah tidak sedang mengajarkan teori fisika. Allah sedang mengajarkan satu prinsip spiritual yang sangat dalam, yaitu ketaatan seorang hamba harus lebih dulu dari sebuah keajaiban dan jangan dibalik. Tongkat itu bukan alat pembelah laut, pukulan tongkat itu sebenarnya adalah simbol ikhtiar kecil dari seorang hamba yang taat dan tulus berharap keselamatan. Seolah-olah Allah berkata kepada Musa: lakukan saja bagian kecilmu, dan Aku akan menyelesaikan bagian besar yang mustahil dalam pandanganmu. Begitu pula kisah Maryam, ibu Nabi Isa AS. Dalam keadaan lemah menjelang persalinan, sendirian di tengah gurun yang panas, lapar, kehausan dan dera rasa sakit, Maryam menerima perintah Allah yang secara logika terdengar sangat aneh. “Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya ia akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu” (QS. Maryam: 25). Bagaimana mungkin seorang perempuan yang sedang menahan rasa sakit persalinan mampu menggoyangkan pohon kurma yang kokoh? Jawabannya bukan pada kekuatan fisik Maryam. Sebenarnya Allah tidak butuh tenaga Maryam untuk menjatuhkan buah kurma. Yang Allah inginkan hanyalah gerakan. Ya, gerakan kecil dari tangan Maryam yang lemah itu adalah deklarasi bahwa ia tidak menyerah pada keadaan, ia berikhtiar menaati perintah Allah. Sehingga buah kurma itupun berjatuhan dan menjadi santapan penambah tenaga hingga Maryam pulih pasca melahirkan. Jika dipalingkan pada kehidupan kita, ketika seorang hamba tetap berusaha dalam kelemahannya, dan menyerahkan semuanya pada kekuasaan Allah dengan segala ketaatannya, maka rahmat Allah akan turun dengan cara yang tidak pernah terduga. Kisah Nabi Ayyub dan Ismail tidak kalah hebatnya, Ayyub AS diuji bertahun-tahun dengan penyakit kulit. Ketika kesembuhan datang, Allah tidak langsung menyembuhkannya tanpa ikhtiar. Allah berfirman, “Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum” (QS. Shad: 42). Ismail AS dengan hentakan kaki kecilnya juga memunculkan mata air Zam-zam yang tak kunjung kering sampai sekarang. Secara logika, hentakan kaki orang sakit dan bayi sudah pasti tidak akan menghasilkan mata air. Tetapi sekali lagi, Allah sedang mengajarkan adanya gerakan partisipasi spiritual dari hambanya, bahkan dalam keadaan paling lemah sekalipun. Kisah di atas telah menuntun kita untuk menemukan satu rumus kehidupan yang jarang disadari manusia, yaitu rumus “I + T = RA.” Huruf I dan T bermakna iktiar manusia berupa usaha, doa, kesabaran, dan ketaatan. Sedangkan RA adalah Rahmat Allah yaitu keberkahan, kemudahan, dan pertolongan yang sering kali tidak tertembus oleh logika manusia. Menariknya rumus ini juga dapat diimplementasikan dalam ibadah puasa Ramadhan. Allah sebenarnya bukan tidak mampu menjadikan manusia bertakwa tanpa harus melalui latihan menahan lapar dan dahaga. Tetapi Allah tidak ingin memberikan derajat ketakwaan sebagai hadiah gratis dan instan dari Allah. Puasa adalah contoh nyata dari ikhtiar itu. Lapar dan dahaga yang kita tahan, Lelah yang kita lawan saat tarawih, kantuk yang kita tahan saat qiamul lail, mushaf yang kita buka meski mata perih, sedekah yang kita keluarkan meskipun ada rasa takut miskin, semua itu adalah bagian kecil dari ikhtiar manusia. Namun balasan yang Allah janjikan jauh melampaui usaha itu. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap amal manusia dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat, dan khusus puasa Allah berfirman: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Lebih menakjubkan lagi, di tengah bulan Ramadhan Allah menyembunyikan sebuah malam yang nilainya melampaui usia produktif manusia. Allah berfirman, “Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS. Al-Qadr: 3). Seribu bulan berarti lebih dari delapan puluh tiga tahun. Artinya satu malam ibadah yang dilakukan dengan iman dan kesungguhan bisa bernilai seperti ibadah sepanjang hidup manusia. Sesungguhnya Ramadhan mengajarkan sebuah pelajaran besar tentang kehidupan. Allah telah menyiapkan arus rahmat yang sangat besar bagi hamba-Nya. Namun seperti listrik yang telah tersedia di rumah kita, cahayanya tidak akan menyala jika saklarnya tidak ditekan. Saklar itu adalah ikhtiar kita, doa yang tulus, sujud yang panjang, istighfar yang jujur, dan kesungguhan untuk memperbaiki diri. Maka Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar. Ia adalah momentum yang tepat untuk menekan saklar rahmat Allah. Ketika seorang hamba melakukan bagian kecilnya dengan penuh kesungguhan, Allah akan membuka pintu keberkahan yang bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiran dan logika manusia. Dan mungkin saja, pada satu malam yang sunyi di sepuluh hari terakhir Ramadhan tahun ini, Allah telah mentakdirkan nama kita tertulis sebagai hamba yang mendapat malam lailatul qadar, Aamiin..! Post navigation WAHYU YANG MENGGUGAT: