(Sebuah Refleksi dalam Memperingati Nuzulul Quran) Oleh: Dr. Supriadi, S.Ag., M.Pd Dosen UIN Bukittinggi Terbit di Harian Singgalang, tanggal 06 Maret 2025 https://www.hariansinggalang.co.id/opini/2558/wahyu-yang-menggugat-sebuah-refleksi-dalam-memperingati-nuzulul-quran Lebih kurang 1460 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan 610 M atau 13 tahun sebelum peristiwa Hijrah, di puncak Jabal Nur di pinggiran kota Makkah terdapat sebuah gua batu yang sempit, yang bernama Gua Hira. Di gua itulah sejarah manusia memasuki babak baru. Seorang manusia pilihan, Muhammad ﷺ, yang tengah bertahannuts, yaitu mengasingkan diri dari hiruk-pikuknya kebejatan kota, dari mirisnya kesyirikan dan perbuatan keji masyarakatnya, sosok Muhammad ﷺ dikejutkan oleh sapaan langit: Iqra’. Peristiwa yang kemudian menjadi penanda abadi bagi manusia tentang awal turunnya user guide kehidupan manusia, sebuah kitab yang dipelihara langsung oleh Allah SWT (QS. Al-Hijr: 9). peristiwa yang dikenal sebagai hingga sekarang dengan malam Nuzulul Qur’an. Peristiwa itu bukan sekadar pengalaman spiritual personal Rasulullah ﷺ saja, melainkan deklarasi epistemologis dan revolusi sosial yang mengguncang struktur peradaban umat manusia pada waktu itu. Pemahaman dangkal, kata Iqra’ acap kali dipersempit maknanya menjadi “membaca teks”. Padahal sesungguhnya saat Jibril mengucapkan iqra’, belum ada kitab yang bisa dibaca dalam arti konvensional. Hal ini memberi makna bahwa kata iqra’ itu tidak lahir di ruang hampa, tetapi lahir di tengah realitas kota Makkah yang timpang. Ia hadir sebagai kritik keras terhadap sistem jahiliyah yang dimapankan. Di sinilah letak kedalaman maknanya Iqra’. Kata itu adalah seruan lantang untuk membaca realitas, membedah struktur sosial, dan menafsirkan sejarah dengan kesadaran tauhid. Istilah jahiliyah sering diterjemahkan sebagai “kebodohan”. Namun reduksi semacam ini menyesatkan. Elit Quraisy bukanlah masyarakat bodoh yang ber-IQ rendah. Mereka adalah komunitas yang piawai dalam retorika, membuat dan melantunkan syair, melakukan diplomasi politik, dan melakoni perdagangan antar negara. Kota Makkah bahkan telah menjadi pusat ekonomi regional yang terhubung dengan negara tetangga seperti Syam dan Yaman sejak lama. Yang jahil bukanlah intelektualitas mereka, melainkan sistem nilai yang mereka anut dan struktur kekuasaan yang mereka jalankan. Istilah Jahiliyah adalah poret dari krisis moral yang terlembagakan, praktek oligarki ekonomi yang menumpuk kekayaan pada segelintir elite, praktek perbudakan dan perdagangan manusia yang mendewakan dehumanisasi, serta praktek patriarki brutal yang mereka pertontonkan dengan bangga, sehingga tega mengubur bayi perempuan hidup-hidup di padang pasir yang panas. Dalam konteks inilah makna Iqra’ harus dipahami. Wahyu pertama itu dilanjutkan dengan frasa “bismi rabbika” (bacalah dengan nama Rabb-mu). Artinya, literasi dalam Islam tidaklah bebas nilai, ia berurat-berakar kuat pada tauhid. Membaca tanpa kesadaran ilahiah akan berpotensi melahirkan kesombongan epistemik. Sebaliknya, membaca atas nama Rabb akan melahirkan tanggung jawab moral yang kokoh. Inilah fondasi epistemologi tauhidi, di mana pengetahuan tidak boleh terlepas dari etika dan keberpihakan kepada nilai ketuhanan. Al-Qur’an sejak awal diturunkan tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga bermaksud membongkar struktur ketimpangan yang tengah terjadi. Beberapa pertanyaan mendasar harus dikritisi; mengapa kekayaan hanya beredar di kalangan orang kaya? Mengapa begitu tega memperlakukan manusia sebagai komoditas? Mengapa yang kuat merasa berhak menindas yang lemah? Maka literasi pertama yang dituntut dalam Islam adalah kesadaran kritik sosial (critical consciousness). Sejarah awal Islam telah menjadi bukti konkret. Pengikut awal Nabi mayoritas berasal dari kelompok mustadh‘afin, yaitu budak seperti Bilal ibn Rabah, keluarga lemah seperti Ammar ibn Yasir, dan perempuan tangguh seperti Khadijah bint Khuwaylid yang siap sedia mengorbankan harta dan reputasinya demi dakwah. Bahkan syahid pertama dalam Islam adalah Sumayyah bint Khayyat, seorang perempuan tua yang dibunuh karena mempertahankan tauhid. Ini bukan kebetulan secara historis. Sejak awal telah dibuktikan bahwa Islam adalah gerakan pembebasan. Kita pasti ingat kisah heroik saat Bilal disiksa oleh tuannya, Umayyah ibn Khalaf, ia hanya mengucap kata “Ahad… Ahad.” Kalimat tauhid itu bukan hanya sekadar zikir, melainkan deklarasi kemerdekaan psikologis. Tauhid telah meruntuhkan inferioritas mental kaum tertindas dan pada sisi lain telah menghancurkan legitimasi moral kaum penindas. Di sinilah terlihat bahwa Iqra’ tidak berhenti pada kesadaran intelektual semata, akan tetapi menjelma menjadi kepedulian sosial. Transformasi itu mencapai puncaknya dalam Piagam Madinah. Nabi Muhammad ﷺ telah berhasil membangun masyarakat baru berbasis keadilan, kesetaraan sosial dan gender, solidaritas lintas suku dan agama. Konsep ummah yang dikundangkan oleh Muhammad ﷺ berhasil melampaui tribalisme Arab. Hal ini terlihat dari budak dapat menjadi pemimpin militer; perempuan diangkat derajatnya sehingga memiliki hak waris; praktik riba dikecam dan distribusi zakat dilembagakan sebagai instrumen redistribusi ekonomi yang canggih. Semua ini berakar dari kesadaran akan makna sesugguhnya dari wahyu yang pertama yaitu membaca realitas dalam kacamata tauhid. Oleh karena itu, memperingati Nuzulul Qur’an tanpa merevitalisasi daya kritis Al-Quran adalah sebuah paradoks. Kita mungkin fasih melantunkan ayat, tetapi apakah bacaan itu membuat kita gelisah melihat kemiskinan terjadi secara terstruktur? Apakah bacaan yang kita lantunkan menggugah nurani ketika praktek hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas? Apakah lantunan ayat suci telah menggerakkan kita untuk menentang eksploitasi alam yang nyata-nyata telah merusak amanah kekhalifahan kita? Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai hudā (petunjuk) dan furqān (pembeda). Fungsi furqān menuntut tentunya keberanian untuk membedakan yang haq dan yang batil, bahkan ketika perbedaan itu tidak populer. Tanpa keberanian moral dari kaum Muslimin, literasi Qur’ani justru akan tereduksi menjadi formalitas seremonial belaka. Kita hanya mengeja huruf demi huruf dari kitab suci, tetapi gagal menangkap pesan transformatifnya. Lebih jauh, pesan Iqra’ juga merupakan seruan bagi seluruh kaum Muslimin untuk selalu membangun peradaban ilmu. Kita sama-sama tahu dalam rentang dua abad setelah wafat Nabi Muhammad ﷺ, dunia Islam telah melahirkan pusat-pusat intelektual seperti Baghdad dan Cordoba. Tradisi keilmuan berkembang pesat karena dorongan wahyu yang memuliakan ilmu. Namun ilmu dalam Islam tidak netral secara moral, ia harus berorientasi pada maslahah dan keadilan. Ketika ilmu sudah mulai terlepas dari tauhid, ia justru dapat berubah menjadi alat dominasi. Maka hari ini, tantangan kita bukan pada kekurangan informasi, tetapi pada krisis makna hakiki dari turunnya al-Quran. Di era banjir data dan media sosial, membaca menjadi aktivitas sehari-hari, akan tetapi belum tentu menghadirkan pencerahan. Iqra’ bismi rabbikallazi khalaq, telah mengajarkan bahwa membaca harus berujung pada melahirkan kesadaran etis dan keberpihakan pada yang lemah. Tanpa semua itu, kita berisiko mengulang kembali kejayaan jahiliyah dalam bentuk baru, jahiliyah modern yang lebih canggih secara teknologi, tetapi rapuh dan akut secara moral. Akhirnya, Saya berpendapat bahwa wahyu pertama Iqra’ itu tetap menggugat. Ia menggugat kemapanan yang tidak adil, menggugat kesalehan yang apatis, dan menggugat intelektualitas yang kehilangan nurani. Jika Al-Qur’an tidak lagi mengusik zona nyaman kita, mungkin yang bermasalah bukan wahyunya, tetapi cara kita membaca dan memaknainya. Iqra’ adalah panggilan abadi untuk membangun kesadaran, membebaskan hakikat kemanusiaan kita, dan menegakkan keadilan sebagai manifestasi tauhid dalam diri setiap Muslim. Merayakan Nuzulul Qur’an seharusnya berarti memperbarui komitmen kita pada misi tersebut. Membaca bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan tindakan profetik. Sebab sejak malam di Gua Hira itu, wahyu telah terus mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian membaca, mulai dari membaca diri, membaca zaman, dan membaca dunia yang selalu diawali dengan menyebut nama Rab. Post navigation MENEKAN SAKLAR RAHMAT:(Ikhtiar Kecil dalam Keajaiban Besar Bulan Ramadhan)