BAB 14

Perbaikan Makharijul Huruf dan Tajwid Dasar

Membangun fondasi bacaan Al-Qur'an yang benar melalui pemahaman makharijul huruf dan penerapan tajwid dasar sebagai bekal membaca Al-Qur'an dengan tartil

📖 Uraian Materi

Pembahasan komprehensif tentang makharijul huruf, sifat-sifat huruf, dan kaidah-kaidah dasar tajwid untuk meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an

1 Pengertian dan Urgensi Ilmu Tajwid

Ilmu tajwid adalah ilmu yang mempelajari cara membaca Al-Qur'an dengan benar, sesuai dengan cara bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Kata tajwid berasal dari akar kata jawwada-yujawwidu-tajwīdan yang berarti memperbaiki atau membaguskan. Secara terminologis, tajwid adalah ilmu tentang tata cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar, yang mencakup pengucapan huruf-huruf dari makhrajnya, pemberian hak dan mustahak setiap huruf, serta aturan-aturan panjang pendek bacaan.

Urgensi mempelajari ilmu tajwid sangatlah besar. Membaca Al-Qur'an dengan tajwid adalah kewajiban bagi setiap muslim yang ingin membaca Al-Qur'an dengan benar. Kesalahan dalam membaca Al-Qur'an (lahn) dapat mengubah makna dan mengurangi pahala bacaan. Karena itu, mempelajari tajwid adalah bagian dari upaya menjaga kemurnian Al-Qur'an sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (QS. Al-Muzzammil [73]: 4)

Ayat di atas memerintahkan untuk membaca Al-Qur'an dengan tartil, yaitu membaca dengan perlahan, jelas, dan sesuai dengan kaidah tajwid. Tartil mencakup seluruh aspek bacaan yang benar, termasuk makharijul huruf, sifat-sifat huruf, dan hukum-hukum bacaan lainnya.

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
"Hiasilah Al-Qur'an dengan suara-suara kalian." (HR. Abu Dawud no. 1468 dan An-Nasa'i no. 1014, dari Abu Hurairah)

Hadis ini menganjurkan untuk memperindah bacaan Al-Qur'an dengan suara yang merdu. Membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar akan menghasilkan bacaan yang indah dan menyentuh hati.

Ilmu tajwid adalah ilmu yang mulia karena ia berkaitan dengan kalam Allah. Barangsiapa yang mempelajari tajwid dengan niat yang ikhlas dan mengamalkannya, ia akan mendapatkan pahala yang besar. Membaca Al-Qur'an dengan tajwid adalah bentuk penghormatan kepada kitab suci dan cara untuk menjaga kemurnian bacaannya.
— Imam Ibn al-Jazari
Ahli Qira'at (w. 833 H / 1429 M), dalam Al-Muqaddimah fī Mā Yajibu 'alā al-Qāri' An Ya'lamah
Referensi: Ibn al-Jazari. Al-Muqaddimah fī Mā Yajibu 'alā al-Qāri' An Ya'lamah. Beirut: Dar al-Fikr. Ash-Sha'rawi, Muhammad Mutawalli. Ma'ajiz al-Qur'an. Kairo: Dar al-Akhbar. Al-Qaradawi, Y. (2021). Kaifa Nata'amal ma'a al-Qur'an. Kairo: Maktabah Wahbah.

2 Makharijul Huruf: Tempat Keluarnya Huruf

Makharijul huruf (tempat-tempat keluarnya huruf) adalah ilmu yang mempelajari dari mana suatu huruf diucapkan. Mengetahui makhraj setiap huruf sangat penting untuk dapat mengucapkan huruf dengan benar. Kesalahan dalam makhraj dapat mengubah makna dan menyebabkan bacaan menjadi tidak sah.

Para ulama qira'at membagi makharijul huruf menjadi lima tempat utama:

a. Al-Jauf (Rongga Mulut dan Tenggorokan)

Al-Jauf adalah rongga mulut dan tenggorokan. Dari sini keluar tiga huruf mad (panjang):

  • Alif (ا) — dengan syarat tidak berharakat.
  • Wawu (و) — dengan syarat berharakat sukun dan sebelumnya berharakat dhammah.
  • Ya' (ي) — dengan syarat berharakat sukun dan sebelumnya berharakat kasrah.

Ketiga huruf ini disebut juga huruf mad atau huruf 'illah.

b. Al-Halq (Tenggorokan)

Dari tenggorokan keluar enam huruf yang terbagi dalam tiga tingkatan:

  • Tingkat Bawah (pangkal tenggorokan): Hamzah (ء) dan Ha' (هـ)
  • Tingkat Tengah: 'Ain (ع) dan Ha' (ح)
  • Tingkat Atas (dekat mulut): Kha' (خ) dan Ghoin (غ)

c. Al-Lisan (Lidah)

Dari lidah keluar 18 huruf yang terbagi dalam beberapa posisi:

  • Ujung lidah dengan gigi seri atas: Tha' (ث), Dzal (ذ), Zha' (ظ)
  • Ujung lidah dengan gusi atas: Dal (د), Ta' (ت), Tha' (ط)
  • Ujung lidah dengan langit-langit: Lam (ل), Nun (ن), Ra' (ر)
  • Tengah lidah dengan langit-langit: Jim (ج), Syin (ش), Ya' (ي)
  • Sisi lidah dengan geraham: Dhad (ض)
  • Ujung lidah dengan gigi seri bawah: Sin (س), Zain (ز), Shin (ص)

d. Asy-Syafatain (Dua Bibir)

Dari dua bibir keluar empat huruf:

  • Bibir bawah dengan gigi seri atas: Fa' (ف)
  • Kedua bibir: Ba' (ب), Mim (م), Wawu (و)

e. Al-Khaisyum (Rongga Hidung)

Dari rongga hidung keluar huruf Nun (ن) dan Mim (م) ketika dibaca dengung (ghunnah).

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ
"Dan Al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya kepada manusia dengan perlahan-lahan." (QS. Al-Isra [17]: 106)
Mengetahui makharijul huruf adalah kunci untuk membaca Al-Qur'an dengan benar. Barangsiapa yang tidak mengetahui makhraj suatu huruf, ia akan kesulitan mengucapkannya dengan benar. Karena itu, setiap muslim yang ingin membaca Al-Qur'an dengan baik harus mempelajari makharijul huruf dari seorang guru yang ahli.
— Imam Ibn al-Jazari
Ahli Qira'at, dalam At-Tamhīd fī 'Ilm at-Tajwīd
Referensi: Ibn al-Jazari. At-Tamhīd fī 'Ilm at-Tajwīd. Beirut: Dar al-Fikr. Ash-Shabuni, Muhammad Ali. At-Tibyān fī 'Ulūm al-Qur'ān. Beirut: Dar al-Fikr. Al-Hudhaifi. Al-Qawā'id al-Asāsiyyah fī 'Ilm at-Tajwīd. Kairo: Dar al-Fajr.

3 Sifat-Sifat Huruf

Setiap huruf memiliki sifat-sifat tertentu yang membedakannya dari huruf lain. Sifat-sifat huruf ini penting untuk diketahui agar kita dapat mengucapkan huruf dengan benar dan membedakan antara huruf yang memiliki makhraj yang sama. Sifat-sifat huruf dibagi menjadi dua kategori: sifat lazimah (sifat yang selalu melekat) dan sifat 'aridhah (sifat yang muncul karena kondisi tertentu).

a. Sifat-Sifat Huruf yang Penting Diketahui

Beberapa sifat huruf yang paling penting untuk diketahui dalam membaca Al-Qur'an adalah:

  • Al-Jahr (terang): Sifat di mana suara tertahan di makhraj. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah semua huruf kecuali 10 huruf berikutnya.
  • Al-Hams (samar): Sifat di mana suara mengalir di makhraj. Huruf-hurufnya ada 10: (ت، ث، ح، خ، س، ش، ص، ف، ك، هـ)
  • Asy-Syiddah (kuat): Sifat di mana suara terputus di makhraj. Huruf-hurufnya: (أ، ج، د، ق، ط، ب، ك، ت)
  • Al-Rikhwah (lembut): Sifat di mana suara mengalir di makhraj. Huruf-hurufnya: semua huruf selain yang bersifat syiddah dan mutawassithah.
  • Al-Isti'la' (naik): Sifat di mana lidah naik ke langit-langit. Huruf-hurufnya: (خ، ص، ض، ط، ظ، غ، ق)
  • Al-Istifal (turun): Sifat di mana lidah turun dari langit-langit. Huruf-hurufnya: semua huruf selain yang ber-isti'la'.
  • Al-Ithbaq (melekat): Sifat di mana lidah melekat ke langit-langit. Huruf-hurufnya: (ص، ض، ط، ظ)
  • Al-Infitaḥ (terbuka): Sifat di mana lidah tidak melekat ke langit-langit. Huruf-hurufnya: semua huruf selain yang ber-ithbaq.
  • Al-Idzlaq (mudah): Sifat di mana huruf mudah diucapkan. Huruf-hurufnya: (ف، ر، م، ن، ل، ب)
  • Al-Ishmat (tertahan): Sifat di mana huruf tidak mudah diucapkan. Huruf-hurufnya: semua huruf selain yang ber-idzlaq.

b. Pentingnya Sifat Huruf dalam Bacaan

Memahami sifat-sifat huruf sangat penting karena:

  • Membantu membedakan huruf yang memiliki makhraj yang sama.
  • Memastikan pengucapan huruf sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW.
  • Mencegah kesalahan bacaan yang dapat mengubah makna.
  • Meningkatkan kualitas dan keindahan bacaan Al-Qur'an.
أَقْرَؤُكُمْ لِلْقُرْآنِ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Orang yang paling baik bacaannya di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari no. 5027, dari Utsman bin Affan)
Sifat-sifat huruf adalah ilmu yang sangat penting untuk membaca Al-Qur'an dengan benar. Dengan mempelajari sifat-sifat huruf, seseorang dapat mengucapkan huruf dengan tepat dan membedakan antara huruf yang mirip. Ini adalah bagian dari upaya untuk membaca Al-Qur'an sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
— Imam Al-Qasthalani
Ahli Qira'at, dalam Irsyād as-Sāri
Referensi: Al-Qasthalani. Irsyād as-Sāri. Beirut: Dar al-Fikr. Al-Hudhaifi. Al-Qawā'id al-Asāsiyyah fī 'Ilm at-Tajwīd. Kairo: Dar al-Fajr. Ash-Shabuni, Muhammad Ali. At-Tibyān fī 'Ulūm al-Qur'ān. Beirut: Dar al-Fikr.

4 Hukum-Hukum Dasar Tajwid

Hukum-hukum tajwid adalah aturan-aturan yang mengatur cara membaca Al-Qur'an dengan benar. Hukum-hukum ini mencakup berbagai aspek bacaan, mulai dari hukum nun mati dan tanwin, hukum mim mati, hukum mad, hingga hukum qalqalah dan lain-lain. Berikut adalah beberapa hukum dasar tajwid yang perlu diketahui.

a. Hukum Nun Mati (نْ) dan Tanwin (ـًـٍـٌ)

Nun mati dan tanwin memiliki empat hukum bacaan:

  • Izhar Halqi: Dibaca jelas ketika bertemu dengan salah satu huruf halqi (أ، هـ، ح، خ، ع، غ). Contoh: مِنْ عِلْمٍ
  • Idgham: Dibaca dengan memasukkan nun/tanwin ke huruf berikutnya. Terbagi menjadi idgham bighunnah (dengan dengung) dan idgham bilaghunnah (tanpa dengung).
  • Iqlab: Mengubah nun/tanwin menjadi mim ketika bertemu huruf ب. Contoh: مِنْ بَعْدِ dibaca مِمْ بَعْدِ
  • Ikhfa': Dibaca samar/sedang ketika bertemu 15 huruf ikhfa'. Contoh: مِنْ تَحْتِهَا

b. Hukum Mim Mati (مْ)

Mim mati memiliki tiga hukum bacaan:

  • Ikhfa' Syafawi: Dibaca samar ketika bertemu huruf ب. Contoh: تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ
  • Idgham Mimi (Mitslain): Dibaca dengung ketika bertemu huruf م. Contoh: لَهُمْ مَا
  • Izhar Syafawi: Dibaca jelas ketika bertemu selain huruf م dan ب. Contoh: عَلَيْهِمْ غَيْرِ

c. Hukum Lam (ل)

Hukum lam terbagi menjadi dua:

  • Lam Jalalah (ل dalam lafaz Allah): Dibaca tebal (tafkhim) jika didahului fathah atau dhammah, dan dibaca tipis (tarqiq) jika didahului kasrah.
  • Lam Ta'rif (ال): Dibaca izhar (jelas) jika bertemu huruf qamariyah, dan dibaca idgham (masuk) jika bertemu huruf syamsiyah.

d. Hukum Mad (Panjang)

Mad adalah memanjangkan bacaan pada huruf-huruf mad. Hukum mad terbagi menjadi beberapa kategori:

  • Mad Thabi'i: Panjang 2 harakat (alif, wawu, ya' tanpa sebab)
  • Mad Wajib Muttashil: Panjang 4-5 harakat (mad thabi'i bertemu hamzah dalam satu kata)
  • Mad Jaiz Munfashil: Panjang 4-5 harakat (mad thabi'i bertemu hamzah di kata berbeda)
  • Mad 'Aridh Lissukun: Panjang 2-6 harakat (mad thabi'i bertemu sukun karena waqaf)
  • Mad Badal: Panjang 2 harakat (hamzah bertemu mad)
  • Mad Lin: Panjang 2-6 harakat (wawu/ya' sukun bertemu huruf sebelumnya berharakat fathah)

e. Hukum Qalqalah

Qalqalah adalah memantulkan suara pada huruf-huruf qalqalah. Huruf qalqalah ada lima: (ق، ط، ب، ج، د). Qalqalah terbagi menjadi:

  • Qalqalah Sughra: Qalqalah yang tidak lebih kuat (huruf berharakat sukun di tengah bacaan)
  • Qalqalah Kubra: Qalqalah yang lebih kuat (huruf berharakat sukun di akhir bacaan/waqaf)
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (QS. Al-Muzzammil [73]: 4)
Hukum-hukum tajwid adalah aturan yang ditetapkan oleh para ulama qira'at untuk menjaga kemurnian bacaan Al-Qur'an. Mempelajari dan mengamalkan hukum-hukum ini adalah kewajiban bagi setiap muslim yang ingin membaca Al-Qur'an dengan benar. Membaca Al-Qur'an tanpa tajwid sama dengan mengabaikan hak-hak Al-Qur'an.
— Imam Ibn al-Jazari
Ahli Qira'at, dalam Al-Muqaddimah
Referensi: Ibn al-Jazari. Al-Muqaddimah fī Mā Yajibu 'alā al-Qāri' An Ya'lamah. Beirut: Dar al-Fikr. Ash-Shabuni, Muhammad Ali. At-Tibyān fī 'Ulūm al-Qur'ān. Beirut: Dar al-Fikr. Al-Hudhaifi. Al-Qawā'id al-Asāsiyyah fī 'Ilm at-Tajwīd. Kairo: Dar al-Fajr.

5 Teknik Membaca Al-Qur'an dengan Tartil

Tartil adalah membaca Al-Qur'an dengan perlahan, jelas, dan sesuai dengan kaidah tajwid. Membaca dengan tartil adalah perintah langsung dari Allah dalam Al-Qur'an. Teknik membaca dengan tartil mencakup beberapa aspek penting yang harus diperhatikan.

a. Kecepatan Membaca

Membaca dengan tartil berarti membaca dengan kecepatan yang sedang — tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Kecepatan yang tepat memungkinkan pembaca untuk melafalkan setiap huruf dengan benar, memperhatikan hukum-hukum tajwid, dan merenungkan makna ayat yang dibaca.

b. Pemberian Hak dan Mustahak Huruf

Setiap huruf dalam Al-Qur'an memiliki hak (sifat yang selalu melekat) dan mustahak (sifat yang muncul karena kondisi tertentu). Membaca dengan tartil berarti memberikan hak dan mustahak setiap huruf dengan benar.

c. Pengaturan Nafas

Membaca Al-Qur'an dengan tartil memerlukan pengaturan nafas yang baik. Pembaca harus mengetahui di mana tempat yang tepat untuk berhenti (waqaf) dan di mana tempat yang tepat untuk melanjutkan (wasal). Pengaturan nafas yang baik akan membuat bacaan menjadi lebih teratur dan enak didengar.

d. Memperhatikan Tempat Berhenti (Waqaf) dan Mulai (Ibtida')

Mengetahui tempat-tempat waqaf (berhenti) dan ibtida' (memulai) sangat penting untuk menjaga makna ayat. Berhenti di tempat yang salah dapat mengubah makna ayat. Tanda-tanda waqaf dalam mushaf Al-Qur'an menunjukkan di mana tempat yang tepat untuk berhenti.

لَا يَسْتَوِي الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَتَدَبَّرُونَهُ وَالَّذِينَ يَقْرَءُونَهُ وَلَا يَتَدَبَّرُونَهُ
"Tidak sama orang-orang yang membaca Al-Qur'an dan merenungkannya dengan orang-orang yang membacanya tetapi tidak merenungkannya." (HR. At-Tirmidzi no. 2906, dari Abu Hurairah)
Membaca Al-Qur'an dengan tartil adalah cara terbaik untuk memahami dan menghayati maknanya. Dengan membaca perlahan dan memperhatikan setiap huruf, pembaca akan lebih mudah merenungkan pesan-pesan yang terkandung dalam Al-Qur'an. Tartil adalah kunci untuk membuka pintu pemahaman Al-Qur'an.
— Imam Al-Ghazali
Dalam Iḥyā' 'Ulūmiddīn, Jilid 1
Referensi: Al-Ghazali. Iḥyā' 'Ulūmiddīn, Jilid 1. Beirut: Dar al-Ma'rifah. Ibn al-Jazari. At-Tamhīd fī 'Ilm at-Tajwīd. Beirut: Dar al-Fikr. Ash-Shabuni, Muhammad Ali. At-Tibyān fī 'Ulūm al-Qur'ān. Beirut: Dar al-Fikr.

6 Metode Praktis Meningkatkan Bacaan Al-Qur'an

Meningkatkan bacaan Al-Qur'an memerlukan latihan yang konsisten dan metode yang tepat. Berikut adalah beberapa metode praktis yang dapat diterapkan oleh mahasiswa untuk meningkatkan bacaan Al-Qur'an.

a. Belajar dari Guru yang Ahli

Cara terbaik untuk belajar tajwid adalah dengan berguru langsung kepada seorang yang ahli dalam membaca Al-Qur'an (qari'). Guru akan membimbing, mengoreksi kesalahan, dan memberikan contoh bacaan yang benar. Di era digital, mahasiswa dapat mengikuti kajian tajwid secara online atau bergabung dengan komunitas pembelajaran Al-Qur'an.

b. Membaca Secara Rutin di Hadapan Guru

Membaca Al-Qur'an di hadapan guru (talaqqi) adalah metode yang paling efektif untuk memperbaiki bacaan. Guru akan mendengarkan bacaan dan memberikan koreksi secara langsung. Metode ini telah dipraktikkan sejak zaman Rasulullah SAW hingga sekarang.

c. Mendengarkan Bacaan Qari' Terkenal

Mendengarkan bacaan qari' terkenal seperti Sheikh Abdul Basit, Sheikh Mishary Rashid Alafasy, atau Qari' lain dapat membantu meniru bacaan yang baik dan benar. Perhatikan bagaimana mereka melafalkan huruf, menerapkan hukum tajwid, dan mengatur nafas.

d. Berlatih Secara Konsisten

Konsistensi adalah kunci dalam meningkatkan bacaan Al-Qur'an. Luangkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur'an, meskipun hanya beberapa ayat. Semakin sering berlatih, semakin baik bacaan yang dihasilkan.

e. Merekam dan Mengevaluasi Bacaan Sendiri

Merekam bacaan sendiri dan mendengarkannya kembali adalah cara efektif untuk mengetahui kekurangan dalam bacaan. Bandingkan dengan bacaan qari' terkenal dan perbaiki kesalahan yang ditemukan.

f. Mengikuti Program Pembelajaran Tajwid

Banyak lembaga yang menyelenggarakan program pembelajaran tajwid, baik secara tatap muka maupun online. Ikuti program ini untuk mendapatkan bimbingan yang terstruktur dan sistematis.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari no. 5027, dari Utsman bin Affan)
Mempelajari Al-Qur'an dan tajwid adalah perjalanan seumur hidup. Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Setiap langkah yang diambil untuk memperbaiki bacaan Al-Qur'an adalah langkah menuju kedekatan dengan Allah. Jangan pernah putus asa, dan teruslah berlatih dengan kesabaran dan ketekunan.
— Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Ahli Tafsir, dalam Wawasan Al-Qur'an
Referensi: Shihab, M. Quraish. (2023). Wawasan Al-Qur'an. Tangerang: Lentera Hati. Ibn al-Jazari. Al-Muqaddimah. Beirut: Dar al-Fikr. Al-Hudhaifi. Al-Qawā'id al-Asāsiyyah fī 'Ilm at-Tajwīd. Kairo: Dar al-Fajr.

7 Pendapat Ulama tentang Tajwid dan Perbaikan Bacaan

Para ulama dari berbagai generasi memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ilmu tajwid dan perbaikan bacaan Al-Qur'an. Berikut adalah beberapa pendapat ulama terkemuka tentang topik ini.

a. Imam Ibn al-Jazari (w. 833 H / 1429 M)

Imam Ibn al-Jazari adalah ulama qira'at yang paling terkenal. Karyanya, Al-Muqaddimah fī Mā Yajibu 'alā al-Qāri' An Ya'lamah, menjadi rujukan utama dalam ilmu tajwid. Ia menekankan bahwa membaca Al-Qur'an dengan tajwid adalah kewajiban bagi setiap muslim.

Membaca Al-Qur'an dengan tajwid adalah kewajiban (fardhu 'ain) bagi setiap muslim yang mampu. Barangsiapa yang membaca Al-Qur'an tanpa tajwid, ia telah melakukan dosa karena meninggalkan kewajiban. Karena itu, setiap muslim harus mempelajari tajwid dan mengamalkannya dalam bacaan Al-Qur'an.
— Imam Ibn al-Jazari
Ahli Qira'at, dalam Al-Muqaddimah fī Mā Yajibu 'alā al-Qāri' An Ya'lamah

b. Imam Al-Qasthalani (w. 923 H / 1517 M)

Imam Al-Qasthalani dalam Irsyād as-Sāri menekankan pentingnya mempelajari makharijul huruf dan sifat-sifat huruf untuk membaca Al-Qur'an dengan benar.

Ilmu makharijul huruf dan sifat-sifat huruf adalah pintu gerbang untuk membaca Al-Qur'an dengan benar. Barangsiapa yang tidak mempelajari kedua ilmu ini, ia akan terus melakukan kesalahan dalam bacaan Al-Qur'an. Karena itu, setiap muslim wajib mempelajarinya dari seorang guru yang ahli.
— Imam Al-Qasthalani
Ahli Qira'at, dalam Irsyād as-Sāri

c. Prof. Dr. M. Quraish Shihab (w. ...)

Mufassir kontemporer ini menekankan bahwa tajwid adalah sarana untuk membaca Al-Qur'an dengan baik, tetapi tujuan utamanya adalah memahami dan mengamalkan pesan Al-Qur'an.

Mempelajari tajwid adalah penting untuk membaca Al-Qur'an dengan benar. Namun, jangan sampai kita terjebak pada formalitas bacaan sehingga melupakan esensi Al-Qur'an, yaitu pesan dan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Bacalah Al-Qur'an dengan baik, tetapi yang lebih penting adalah memahaminya dan mengamalkannya dalam kehidupan.
— Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Ahli Tafsir, dalam Wawasan Al-Qur'an

d. Sheikh Muhammad Mutawalli Ash-Sha'rawi (w. 1998 M)

Ulama dan mufassir Mesir ini menekankan bahwa membaca Al-Qur'an dengan tartil dan tajwid adalah bentuk penghormatan kepada kitab suci dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Al-Qur'an adalah kalamullah yang mulia. Karena itu, membacanya harus dilakukan dengan penuh penghormatan. Tartil dan tajwid adalah cara untuk menghormati Al-Qur'an. Ketika kita membaca Al-Qur'an dengan tartil, kita sedang menunjukkan kecintaan kita kepada Allah dan kitab-Nya.
— Sheikh Muhammad Mutawalli Ash-Sha'rawi
Ulama dan Mufassir Mesir, dalam Ma'ajiz al-Qur'an
Referensi: Ibn al-Jazari. Al-Muqaddimah fī Mā Yajibu 'alā al-Qāri' An Ya'lamah. Beirut: Dar al-Fikr. Al-Qasthalani. Irsyād as-Sāri. Beirut: Dar al-Fikr. Shihab, M. Quraish. (2023). Wawasan Al-Qur'an. Tangerang: Lentera Hati. Ash-Sha'rawi, Muhammad Mutawalli. Ma'ajiz al-Qur'an. Kairo: Dar al-Akhbar.

8 Indikator Keberhasilan Perbaikan Makharijul Huruf dan Tajwid

Untuk mengukur keberhasilan pembinaan perbaikan makharijul huruf dan tajwid, dosen wali perlu menetapkan indikator yang jelas dan terukur. Indikator ini mencakup tiga dimensi: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (perilaku).

a. Indikator Kognitif

Mahasiswa dianggap berhasil secara kognitif jika ia mampu:

  • Menjelaskan pengertian, urgensi, dan tujuan mempelajari ilmu tajwid.
  • Menyebutkan tempat-tempat makharijul huruf (al-jauf, al-halq, al-lisan, asy-syafatain, al-khaisyum).
  • Menjelaskan sifat-sifat dasar huruf dan perbedaannya.
  • Menyebutkan hukum-hukum dasar tajwid (nun mati/tanwin, mim mati, mad, qalqalah, dll.).
  • Menjelaskan teknik membaca Al-Qur'an dengan tartil.

b. Indikator Afektif

Mahasiswa dianggap berhasil secara afektif jika ia menunjukkan:

  • Kesadaran akan pentingnya membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar.
  • Motivasi yang tinggi untuk mempelajari dan memperbaiki bacaan Al-Qur'an.
  • Kekhusyukan dan penghayatan dalam membaca Al-Qur'an.
  • Keinginan untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas bacaan.
  • Kecintaan kepada Al-Qur'an yang tercermin dalam rutinitas membacanya.

c. Indikator Psikomotorik

Mahasiswa dianggap berhasil secara psikomotorik jika ia:

  • Mampu mengucapkan huruf-huruf hijaiyah dari makhrajnya dengan benar.
  • Mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil dan tajwid yang benar.
  • Mampu menerapkan hukum-hukum dasar tajwid dalam bacaan Al-Qur'an.
  • Mampu mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan dalam bacaan sendiri.
  • Mampu membaca Al-Qur'an di hadapan guru dan mendapatkan koreksi secara langsung.
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ
"Orang-orang yang telah Kami berikan kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itulah yang beriman kepadanya." (QS. Al-Baqarah [2]: 121)
Sintesis: Perbaikan makharijul huruf dan tajwid adalah bagian penting dari Tahsinul Qur'an. Membaca Al-Qur'an dengan benar — melalui pemahaman makharijul huruf, sifat-sifat huruf, dan hukum-hukum tajwid — adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dengan membaca Al-Qur'an dengan tartil dan tajwid, seorang mahasiswa tidak hanya mendapatkan pahala yang besar, tetapi juga lebih mudah memahami dan menghayati pesan-pesan Al-Qur'an. Di era modern yang penuh dengan distraksi, kemampuan membaca Al-Qur'an dengan baik menjadi lebih penting sebagai sarana untuk menjaga hubungan spiritual dengan Allah. Dosen wali memiliki peran yang sangat strategis dalam membimbing mahasiswa untuk terus meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an melalui pembelajaran dan latihan yang konsisten.
Referensi: Ibn al-Jazari. Al-Muqaddimah fī Mā Yajibu 'alā al-Qāri' An Ya'lamah. Beirut: Dar al-Fikr. Ash-Shabuni, Muhammad Ali. At-Tibyān fī 'Ulūm al-Qur'ān. Beirut: Dar al-Fikr. Al-Hudhaifi. Al-Qawā'id al-Asāsiyyah fī 'Ilm at-Tajwīd. Kairo: Dar al-Fajr. Kementerian Agama RI. (2023). Standar Kompetensi Lulusan PTKI. Jakarta: Ditjen Pendis.

🎯 Tujuan Pembelajaran

Capaian yang diharapkan setelah mempelajari Bab 14

📖

Memahami Ilmu Tajwid

Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian, urgensi, dan tujuan mempelajari ilmu tajwid dengan merujuk pada dalil Al-Qur'an dan Hadis.

🔊

Menguasai Makharijul Huruf

Mahasiswa mampu mengidentifikasi makharijul huruf dan mengucapkan huruf-huruf hijaiyah dari makhrajnya dengan benar.

📋

Memahami Sifat-Sifat Huruf

Mahasiswa mampu menjelaskan sifat-sifat dasar huruf dan menerapkannya dalam bacaan Al-Qur'an.

📚

Menerapkan Hukum Tajwid

Mahasiswa mampu menerapkan hukum-hukum dasar tajwid (nun mati, mim mati, mad, qalqalah) dalam bacaan Al-Qur'an.

🌟

Membaca dengan Tartil

Mahasiswa mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil dan terus meningkatkan kualitas bacaannya melalui latihan yang konsisten.

✅ Indikator Ketuntasan Belajar

Tolok ukur keberhasilan penguasaan materi Bab 14

1

Kognitif (C4): Mahasiswa mampu menganalisis pentingnya mempelajari makharijul huruf dan tajwid dalam membaca Al-Qur'an dengan merujuk pada dalil Al-Qur'an, Hadis, dan pendapat ulama.

2

Kognitif (C3): Mahasiswa mampu menjelaskan tempat-tempat makharijul huruf, sifat-sifat huruf, dan hukum-hukum dasar tajwid dengan benar.

3

Kognitif (C5): Mahasiswa mampu mengevaluasi bacaan Al-Qur'an sendiri dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperbaiki dalam tajwid.

4

Afektif (A4): Mahasiswa menunjukkan kesadaran dan motivasi untuk terus mempelajari dan memperbaiki bacaan Al-Qur'an dengan tajwid yang benar.

5

Psikomotorik (P4): Mahasiswa mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil dan tajwid yang benar serta mampu mengajarkan kepada orang lain.

6

Psikomotorik (P3): Mahasiswa mampu mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan dalam bacaan sendiri dengan bimbingan guru.

📚 Daftar Referensi Bab 14

Sumber-sumber rujukan yang digunakan dalam pembahasan

  1. Al-Ghazali, Abu Hamid. Iḥyā' 'Ulūmiddīn, Jilid 1. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
  2. Al-Hudhaifi. Al-Qawā'id al-Asāsiyyah fī 'Ilm at-Tajwīd. Kairo: Dar al-Fajr.
  3. Al-Qasthalani. Irsyād as-Sāri. Beirut: Dar al-Fikr.
  4. Ash-Shabuni, Muhammad Ali. At-Tibyān fī 'Ulūm al-Qur'ān. Beirut: Dar al-Fikr.
  5. Ash-Sha'rawi, Muhammad Mutawalli. Ma'ajiz al-Qur'an. Kairo: Dar al-Akhbar.
  6. Ibn al-Jazari. Al-Muqaddimah fī Mā Yajibu 'alā al-Qāri' An Ya'lamah. Beirut: Dar al-Fikr.
  7. Ibn al-Jazari. At-Tamhīd fī 'Ilm at-Tajwīd. Beirut: Dar al-Fikr.
  8. Kementerian Agama RI. (2023). Al-Qur'an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.
  9. Kementerian Agama RI. (2023). Panduan Membaca Al-Qur'an dengan Tajwid. Jakarta: Ditjen Bimas Islam.
  10. Kementerian Agama RI. (2023). Standar Kompetensi Lulusan PTKI. Jakarta: Ditjen Pendis.
  11. Shihab, M. Quraish. (2023). Wawasan Al-Qur'an. Tangerang: Lentera Hati.

🎥 Video Pembahasan Bab 14

Tonton penjelasan mendalam dari tim penyusun

▶️

Perbaikan Makharijul Huruf dan Tajwid Dasar

Video ini mengulas pengertian dan urgensi tajwid, makharijul huruf, sifat-sifat huruf, hukum-hukum dasar tajwid, teknik membaca dengan tartil, serta metode praktis meningkatkan bacaan Al-Qur'an.

🎬 Tonton Video

📝 Tanggapan Mahasiswa

Berikan umpan balik Anda terhadap materi dan nasehat Dosen Wali pada Bab 14

📝

Tanggapan Mahasiswa Bab 14

Setelah mengikuti pembinaan Dosen Wali pada Bab 14 tentang Perbaikan Makharijul Huruf dan Tajwid Dasar, silakan berikan tanggapan Anda. Umpan balik ini akan membantu meningkatkan kualitas pembinaan di masa mendatang.

📋 Isi Tanggapan Sekarang